TKJ SMKN 1 GEGER MADIUN

Teknik Komputer dan Jaringan

Monday, July 22, 2013

Apa sih CIDR dan VLSM?

Apa sih CIDR dan VLSM?


            Sebelum mempelajari tentang CIDR dan VLSM, ada baiknya kita lihat perbedaan diantara keduanya. Berikut perbedaan antara CIDR dan VLSM;
  • VLSM mirip dengan CIDR
  •  Keduanya sama-sama membagi jaringan besar menjadi jaringan-jaringan yang lebih kecil. 
  • Tujuan VLSM: menggunakan blok alamat yang ada se-efisien mungkin 
  • Tujuan CIDR: membuat routing table lebih efisien dengan subnet yang sudah ada. 
  • VLSM:
Pembagian jaringan ini pada alamat yang sudah digunakan pada suatu organisasi dan tidak terlihat di Internet
  • CIDR:
CIDR dapat  mengalokasikan suatu alamat yang sudah disediakan oleh Internet kepada ISP high-level ke ISP mid-level sampai lower-level dan akhirnya ke jaringan suatu organisasi.

Dari perbedaan CIDR dan VLSM tersebut diatas terlihat jelas bahwa CIDR dan VLSM memiliki fungsi yang sama. Hanya saja penggunaannya yang berbeda.

Oke, biar tambah jelas, ini penjelasan tentang CIDR dan VLSM yang lebih luas.


CIDR
CIDR adalah singkatan dari ClasslesInter-Domain Routing. CIDR dikembangkan pada 1990-an sebagai skema standar untuk routing lalu lintas jaringan di internet.

Sejarah CIDR
Pada tahun 1992 lembaga IEFT memperkenalkan suatu konsep perhitungan IP Address yang dinamakan supernetting atau classless inter domain routing (CIDR), metode ini menggunakan notasi prefix dengan panjang notasi tertentu sebagai network prefix, panjang notasi prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang digunakan sebagai Network ID, metode CIDR dengan notasi prefix dapat diterapkan pada semua kelas IP Address sehingga hal ini memudahkan dan lebih efektif. Menggunakan metode CIDR kita dapat melakukan pembagian IP address yang tidak berkelas sesukanya tergantung dari kebutuhan pemakai.

Mengapa menggunakan CIDR?
Sebelum CIDR teknologi dikembangkan, router internet didasarkan pada kelas dari alamat IP. Dalam sistem ini, nilai dari alamat IP menentukan subnetwork untuk keperluan routing.
CIDR merupakan alternatif tradisional subnetting IP yang mengatur alamat IP ke subnetwork independen dari nilai alamat sendiri. CIDR juga dikenal sebagai supernetting karena efektif memungkinkan beberapa subnet harus dikelompokkan bersama untuk jaringan routing.

Notasi CIDR
CIDR menentukan rentang alamat IP menggunakan kombinasi alamat IP dan mask jaringan yang terkait. CIDR notasi menggunakan format berikut:

xxx.xxx.xxx.xxx/n

dimana n adalah jumlah bit (paling kiri) ‘1’ di masker. Sebagai contoh,

192.168.12.0/23

Berlaku mask 255.255.254.0 jaringan ke jaringan 192,168 mulai dari 192.168.12.0. Notasi ini merupakan kisaran alamat 192.168.12.0-192.168.13.255. Dibandingkan dengan tradisional berbasis kelas jaringan, 192.168.12.0/23  merupakan agregasi dari C dua kelas subnet 192.168.12.0 dan 192.168.13.0 masing-masing memiliki subnet mask 255.255.255.0. Dengan kata lain,

192.168.12.0/23=192.168.12.0/24 + 192.168.13.0/24

Selain itu, CIDR mendukung Internet alokasi alamat dan pesan routing independen dari kelas tradisional dari berbagai alamat IP yang diberikan. Sebagai contoh,
10.4.12.0/22
Mewakili rentang alamat 10.4.12.0 - 10.4.15.255(jaringan mask 255.255.252.0). Ini mengalokasikan setara dengan empat jaringan kelas C dalam kelaa jauh lebih besar spasi.

Bagaimana CIDR bekerja
Implementasi CIDR memerlukan dukungan tertentu tertana, dalam jaringan routing protokol. Ketika pertama kali diimplementasikan di internet, inti routing protokol seperti BGP(Border Gateway Protocol) dan OSPF(Open ShorthestPath First) yang diperbaharui untuk mendukung CIDR. Routing protokol using atau kurang popular mungkin tidak mendukung CIDR.
CIDR agregasi memerlukan segmen jaringan yang terlibat harus bersebelahan(numeric berdekatan) di ruang alamat. CIDR tidak dapat, misalnya, agregat 192.168.12.0 dan 192.168.15.0 ke rute tunggal kecuali .13.14 menengah dan rentang alamat dimasukkan (yaitu, jaringan 192.168.12/22)
Internet WAN atau router backbone (orang-orang yang mengelola lalu lintas antara Internet Service Provider) semua umumnya mendukung CIDR untuk mencapai tujuan konservasi ruang alamat IP. Router Mainstream konsumen sering tidak mendukung CIDR, sehingga jaringan pribadi (termasuk jaringan rumah) dan bahkan jaringan public kecil (LAN) sering tidak menggunakannya.


VLSM
Variable Length Subnet Mask
Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask, jika menggunakan CIDR dimana suatu Network ID hanya memiliki satu subnet mask saja, perbedaan yang mendasar disini juga adalah terletak pada pembagian blok, pembagian blok VLSM bebas dan hanya dilakukan oleh si pemilik Network Address yang telah diberikan kepadanya atau dengan kata lain sebagai IP address local dan IP Address ini tidak dikenal dalam jaringan internet, namun tetap dapat melakukan koneksi kedalam jaringan internet, hal ini terjadi dikarenakan jaringan internet hanya mengenal IP Address
berkelas.
Metode VLSM ataupun CIDR pada prinsipnya sama yaitu untuk mengatasi kekurangan
IP Address dan dilakukannya pemecahan Network ID guna mengatasi kekerungan IP Address tersebut. Network Address yang telah diberikan oleh lembaga IANA jumlahnya sangat terbatas, biasanya suatu perusahaan baik instansi pemerintah, swasta maupun institusi pendidikan yang terkoneksi ke jaringan internet hanya memilik Network ID tidak lebih dari 5 – 7 Network ID (IP Public).
Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan network-nya dapat memenuhi persyaratan ; routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2), semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.
Tahapan perhitungan menggunakan VLSM IP Address yang ada dihitung menggunakan
CIDR selanjutnya baru dipecah kembali menggunakan VLSM, sebagai contoh :
130.20.0.0/20
Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat
11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah 4 maka
Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16
Maka blok tiap subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20
Dst … sampai dengan
Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20
Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian :
- Kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai 16 diambil dari hasil perhitungan
subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
- Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita
gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16
blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24
Blok subnet VLSM 1-3 = 130.20.34.0/24
Blok subnet VLSM 1-4 = 130.20.35.0/24
Dst … sampai dengan
Blok subnet VLSM 1-16 = = 130.20.47/24
- Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu
130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat
ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari 32
sehingga didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.37.192/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.38.224/27

Metode VLSM hampir serupa dengan CIDR hanya blok subnet hasil daro CIDR dapat kita bagi lagi menjadi sejumlah Blok subnet dan blok IP address yang lebih banyak dan lebih kecil lagi. Demikian pembahasan CIDR dan VLSM semoga bermanfaat. ☺

APA ITU CIDR DAN VLSM....????

APA ITU CIDR DAN VLSM....????



1. CIDR
    Menurut Wikipedia CIDR atau Classless Inter Domain Routing adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat - alamat IP yang berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E dan sering disebut dengan supernetting.
   Fungsinya adalah untuk memperlambat pertumbuhan tabel raouting pada router di internet, dan untuk membantu memperlambat cepat lelahnya alamat IPv4. CIDR mengalokasikan ruang alamat untuk penyedia layanan internet dan pengguna akhir pada setiap alat bit batas, bukan pada 8 bit segmen. Sedangkan pada IPv6 identifier antarmuka memiliki ukuran 64 bit dengan konvensi dan subnet yang lebih kecil dan tidak pernah dialokasikan kepada pengguna terakhir.
      CIDR pada prinsipnya merupakan standart bitwise, yang didasarkan prefix untuk interpretasi alamat IP. CIDR juga memfasilitasi raouting dengan memungkinkan blok alamat untuk dikelompokkan ke dalam entri tabel routing tunggal yang biasa disebut dengan blok CIDR.
       >> IPv4 CIDR block
        
2. VLSM
     VLSM atau Variable Leght Subnet Mask adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam VLSM dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana subneting klasik, subneting zeroes, dan subnet ones tidak bisa digunakan. Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen - segmen jaringan tersebut memiliki alamat - alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak alamat. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran yang bervariasi yang diturunkan dari netmowrk identifier yang sama. teknik subnetting ini disebut dengan Variable Length Subnetting. Subjaringan yang dibuat dengan menggunakan teknik ini disebut dengan Variable Length Subnet Mask.
       Dengan menggunakan Variable Length Subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif maksudnya network identifier yang sebelumnya telah disubnetkan lalu disubnetkan kembali. Bit - bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting dilakukan dengan mengambil sisa dari bit - bit host dan teknik ini pun membutuhkan raouting yang baru (routing yang mendukung : RIPv2, OSPF, BGPv4).
         Perhitungan IP Address dengan menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu network address lebih dari satu subnetmask. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap  dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet, sebaiknya pengelolaan network memenuhi syarat:
  1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya.
  2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.

IP Address V4 - Menghitung Subnet Mask & Bits Mask [CIDR] Secara Manua

IP Address V4 - Menghitung Subnet Mask & Bits Mask [CIDR] Secara Manual


Halu, akhirnya nulis lagi nih setelah sekian lama ;))Sebenarnya ada cukup banyak bahasan yang sempat terpikir, tapi sayangnya kelibas terus sama kerjaan dan akhirnya lupa. Bahasan kali ini masih berkaitan dengan internet, yaitu tentang IP address. Karena bahasan tentang IP address juga bisa begitu luas, maka artikel kali ini saya angkat dengan tema menghitung subnet mask dan bits mask [CIDR - Classless Inter-Domain Routing] secara manual. Jika tertarik, silakan ikut paparan selengkapnya di bawah ini.

Intro

IP address, tentunya sudah bukan hal asing bagi Anda yang sudah sering berkecimpung dengan internet. Serupa dengan identitas personal, IP address digunakan di internet sebagai identitas sebuah mesin sebagai pengenal. Layaknya KTP di Indonesia yang bersifat unik dan personal serta tidak bisa dimiliki oleh beberapa orang berbeda [ walaupun pada kenyataannya kadang bisa ada identitas ganda ;))], IP address juga hanya dapat dimiliki atau digunakan oleh sebuah mesin.
Melangkah lebih dalam tentang IP address kita akan berjumpa dengan istilah subnet mask. Masih nda ingat? Biasanya orang menyebut 255.255.255.0. Nah, itulah subnet mask yang digunakan untuk membagi network sesuai kebutuhan. Contoh lain lagi mungkin Anda pernah mendapati subnet mask dalam format penulisan dengan tanda baca garis miring [ Misal 180.235.148.0/26 ]. Masih berkaitan dengan pembagian network, hanya saja format penulisannya berbeda.
Bagi Anda yang berkecimpung dengan jaringan komputer dan masih belum memahami cara menghitung subnet mask dan mask bits [CIDR], maka nda ada salahnya untuk mengikuti bahasan berikut ini sebagai panduan. Mari kita mainkan…:metal:

Subnet Mask

Untuk memudahkan dalam pemahanannya, saya buatkan contoh keseharian terkait kasus subnet mask seperti di bawah ini.
Anda diberikan alokasi IP address menggunakan mask bits 180.235.148.0/26. Lalu Anda ditugaskan untuk beberapa hal di bawah ini :
  • Mengetahui subnet mask yang harus digunakan.
  • Mengetahui subnet mask dalam format biner.
  • Mengetahui jumlah host yang dapat digunakan.
  • Mengetahui range IP address yang dapat digunakan.
  • Mengetahui network address yang harus digunakan.
  • Mengetahui gateway address yang harus digunakan.
  • Mengetahui broadcast address yang harus digunakan.
  • Mengetahui usable IP address yang dapat digunakan untuk komputer klien.
Sejauh ini mungkin Anda sudah mulai kliyeng-kliyeng setelah menerima beberapa tugas di atas:dTetapi jangan khawatir, karena ada rumusan sederhana untuk menyelesaikan semua tugas di atas tanpa bantuan aplikasi IP address calculator sekalipun. Silakan simak tabel rumusannya di bawah ini.

Lets Get Mumet

255.255.255.X  
11111111 11111111 11111111 Y  
8+8+8+Z=/32
Konsep dasar IP address versi 4 adalah kumpulan angka biner yang terdiri dari 4 bagian [aaa.bbb.ccc.ddd], dimana masing-masing bagian memilki nilai total 8. Dengan kata lain total dari keseluruhan bagian adalah 32 dan dalam mask bits dituliskan /32. Nah, sudah mulai agak cerah kan sekarang;))
Pada tabel rumusan di atas terdapat beberapa variabel favorit saya, yaitu XY dan Z yang mewakili tugas di atas dan akan kita selesaikan. Mari kita lanjutkan lagi pengembaraan kita terkait tugas-tugas di atas.
Mencari Z
Karena kita diberikan /26, maka nilai cara mengetahui variabel Z adalah sebagai berikut.
Z=26-(nilai bit pertama + nilai bit kedua + nilai bit ketiga)
 =26-(8+8+8)
 =26-24
 =2  
Dengan begitu, kondisi tabel kita saat ini adalah :
255.255.255.X  
11111111 11111111 11111111 Y  
8+8+8+2=/26
Mencari Y
Langkah ini menjadi mudah karena kita telah mendapatkan nilai Z di langkah sebelumnya, yaitu 2. Nilai 2 ini mewakili jumlah angka 1 dalam format biner yang harus digunakan pada bagian terakhir.
Kita cukup menuliskan angka 1 dari kiri sebanyak 2, lalu 6 angka berikutnya adalah 0. Karena tiap bagian memiliki nilai total 8 yang diwakili oleh angka 11111111 dan Z bernilai 2, maka Y adalah11000000.
Dengan begitu, kondisi tabel kita saat ini adalah :
255.255.255.X  
11111111 11111111 11111111 11000000  
8+8+8+2=/26
Mencari X
Ada dua buah tahapan untuk mendapatkan nilai variabel X dan rumusannya adalah sebagai berikut.
X=256-(2 ^ jumlah angka nol di variabel Y)
 =256-(2 ^ 6)
 =256-(2x2x2x2x2x2)
 =256-64
 =192  
Dengan begitu, kondisi tabel kita saat ini adalah :
255.255.255.192  
11111111 11111111 11111111 11000000  
8+8+8+2=/26

Here Comes The Sun

Setelah melakukan kalkulasi menggunakan tabel rumusan di atas dan mendapatkan nilai variabelXserta Z, kini kita dapat melenggang untuk menjawab semua tugas di atas.
  • Mengetahui subnet mask yang harus digunakan, yaitu 255.255.255.192.
  • Mengetahui subnet mask dalam format biner, yaitu11111111.11111111.11111111.11000000.
  • Mengetahui jumlah host yang dapat digunakan dengan rumusan di bawah ini.
    Jumlah host=254-Nilai variabel X
     =254-192
     =62  
  • Mengetahui range IP address yang dapat digunakan dengan rumusan di bawah ini.
    Range IP address=180.235.148.(0 + 1)
     =180.235.148.1
      Sampai dengan
     =180.235.148.(0 + 62)
      180.235.148.62
  • Mengetahui network address yang harus digunakan, yaitu 180.235.148.0.
  • Mengetahui gateway address yang harus digunakan, yaitu 180.235.148.62.
  • Mengetahui broadcast address yang harus digunakan dengan rumusan bagian akhir dari gateway address + 1, yaitu 180.235.148.63.
  • Mengetahui usable IP address yang dapat digunakan untuk komputer klien dengan rumusan bagian akhir network address + 1 sampai dengan bagian akhir gateway address - 1, yaitu 180.235.148.1 sampai dengan 180.235.148.61.

Bits Mask

Setelah memahami kalkulasi subnet mask di atas, kini tiba waktunya untuk kalkulasi manual berdasarkan bits mask. Untuk memudahkan dalam pemahanannya, kembali saya buatkan contoh keseharian terkait kasus bits mask seperti di bawah ini.
Anda diberikan alokasi IP address 180.235.148.0 dengan subnet mask 255.255.255.240. Lalu Anda ditugaskan untuk beberapa hal di bawah ini :
  • Mengetahui subnet mask dalam format biner.
  • Mengetahui subnet mask dalam format bits mask.

Lets Get Mikir

Serupa dengan metode kalkulasi sebelumnya, perhitungan bits mask juga menggunakan format biner, hanya saja ada sedikit perbedaan. Mari kita selesaikan;)
Mengetahui subnet mask dalam format biner
Untuk mendapatkan format biner dari subnet mask 255.255.255.240 maka cukup membagi habis bagian terakhir, yaitu 240. Karena dalam format biner, maka pembaginya adalah 2.
240:2=120sisa0
120:2=60sisa0
60:2=30sisa0
30:2=15sisa0
15:2=7sisa1
7:2=3sisa1
3:2=1sisa1
Dengan begitu kita akan mendapatkan format binernya, yaitu 11110000.
Mengetahui bits mask
Menghitung bits mask juga tidak kalah mudahnya, karena cukup melakukan opsi pengurangan sederhana dengan rumusan di bawah ini.
CIDR=32 - (Jumlah angka nol di bagian akhir)
 =32 - 4
 =28
Dengan begitu kita dapatkan bits mask [CIDR] dari subnet mask 255.255.255.240 adalah180.235.148.0/28.

Outro


Selama ini mungkin Anda berpikiran kalkulasi subnet mask dan bits mask sangat sulit dan menimbulkan ketergantungan terhadap aplikasi tertentu. Nah, setelah mempelajari dan memahami kedua bahasan di atas, kini Anda sudah dapat menghitung subnet mask dan bits mask [CIDR] secara manual meskipun tidak memiliki aplikasi IP Address calculator atau sejenisnya.

Newer Posts Older Posts Home